Faidah Dari Ayat Pertama
al-Hamdu lillahi Rabbil 'alamin
Artinya: Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam
Ayat ini menunjukkan bahwa yang berhak mendapatkan segala bentuk pujian hanyalah Allah ta'ala karena Dia lah yang memiliki segala kebaikan yang sempurna dan berbuat ihsan/kebaikan secara menyeluruh (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 26)Ibnu Abbas radhiyallahu'anhuma mengatakan, “al-Hamdu lillah adalah ucapan setiap orang yang bersyukur.” Abu Nashr al-Jauhari mengatakan, “al-Hamdu/pujian adalah lawan dari celaan.” (lihat Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/29])Ucapan al-Hamdu lillah adalah doa yang paling utama. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seutama-utama dzikir adalah laa ilaha illallah, sedangkan seutama-utama doa adalah al-Hamdu lillah.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab ad-Da'awat [3383], dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani, lihat juga al-Mustadrak [1886], al-Hakim berkata, “Hadits ini sanadnya sahih dan tidak dikeluarkan Bukhari dan Muslim.” Syaikh Muqbil mengatakan, “Tidak, Musa bin Ibrahim -salah satu periwayat- dikomentari adz-Dzahabi dalam al-Mizan bahwa dia 'shalih'. Padahal perawi yang dikatakan 'shalih' haditsnya tidak bisa terangkat ke derajat hasan.” lihat al-Mustadrak [1/682])Allah memuji diri-Nya sendiri, yang di dalamnya tersirat perintah kepada hamba-hamba-Nya untuk memuji-Nya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 9, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/29])Penetapan pujian kepada Allah dari segala sisi atas kesempurnaan sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya (Taisir al-Karim ar-Rahman, lihat al-Majmu'ah al-Kamilah [1/34])Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan makhluk-makhluk adalah bukti keberadaan Allah Dzat yang telah menciptakannya (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 27)Ayat ini juga mengandung bantahan bagi kaum Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 55)Ayat ini juga mengandung bantahan bagi kaum Jabriyah yang beranggapan bahwa Allah memaksa hamba-hamba-Nya dan tidak memberikan pilihan sama sekali bagi mereka di dalam hidupnya (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 55)Penetapan bahwasanya hanya Allah ta'ala yang berhak mendapatkan pujian yang sempurna karena imbuhan al dalam kata al-Hamdu menunjukkan makna mencakup keseluruhan bagiannya (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9)Pengenalan tentang sosok yang patut untuk disembah; yaitu Allah subhanahu wa ta'ala melalui tiga nama Allah yang itu menjadi poros asma'ul husna, yaitu Allah, ar-Rabb, dan ar-Rahman (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 7)Dalam segala kondisi Allah tetap berhak mendapatkan pujian. Oleh sebab itu apabila Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam merasakan sesuatu yang menyenangkan beliau maka beliau pun berdzikir, 'Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush shalihaat' artinya: “Segala puji bagi Allah yang dengan curahan nikmat-Nyalah maka segala kebaikan menjadi sempurna”. Demikian juga apabila beliau menjumpai keadaan yang sebaliknya (tidak menyenangkan) maka beliau berdzikir, 'Alhamdulillahi 'ala kulli haal' artinya: “Segala puji bagi Allah dalam kondisi apapun” (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9). Dari 'Aisyah radhiyallahu'anha, beliau menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasanya apabila melihat sesuatu yang membuat beliau senang maka beliau berkata, “Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat.” Dan apabila melihat sesuatu yang kurang beliau senangi maka beliau berkata, “Alhamdulillahi 'ala kulli haal.” (HR. Thabrani dalam ad-Du'a [1769] sanadnya dinyatakan hasan, lihat ad-Du'a li ath-Thabrani [3/1595-1596]. al-Hakim dalam al-Mustadrak [1892], beliau berkata, “Hadits ini sanadnya sahih dan tidak dikeluarkan Bukhari dan Muslim.” Syaikh Muqbil berkata, “Zuhair bin Muhammad -salah satu periwayat- apabila haditsnya diriwayatkan oleh orang-orang Syam maka riwayatnya adalah lemah. Sedangkan al-Walid bin Muslim -orang yang meriwayatkan darinya- adalah penduduk Syam.” lihat al-Mustadrak [1/684])Yang dimaksud pujian -al-Hamdu- di sini adalah sanjungan yang diiringi dengan rasa cinta dan pengagungan (lihat Tafsir Juz 'Amma Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 8, Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 7, adh-Dhau' al-Munir 'ala at-Tafsir [1/32])Allah senantiasa dipuji dikarenakan kesempurnaan dzat-Nya, keindahan nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta keagungan perbuatan-perbuatan-Nya. Selain itu Allah juga dipuji karena anugerah nikmat yang dicurahkan oleh-Nya kepada seluruh makhluk-Nya (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 12 dan Syarh Manzhumah Mimiyah, hal. 23).Allah juga terpuji karena ketetapan hukum-Nya, yaitu hukum kauni -hukum yang berlaku bagi semua ciptaan-Nya di dalam dunia ini- demikian juga hukum syar'i -yang berupa ketetapan hukum ilmiah dan amaliah bagi mukallaf/orang yang dibebani syari'at- begitu pula dalam hal hukum ukhrawi yang ditetapkan oleh-Nya berupa balasan dan hukuman bagi hamba-Nya di alam akherat (lihat Jam'ul Mahshul fi Syarh Risalah Ibnu Sa'di fi al-Ushul, hal. 13-14)Pujian (al-Hamd) berbeda dengan syukur. Karena pujian itu diberikan sebagai tanggapan atas sifat-sifat muta'addiyah (yang memiliki pengaruh terhadap objek) maupun sifat-sifat lazimah (yang hanya melekat pada yang disifati, tidak mempengaruhi objek). Adapun syukur diberikan sebagai tanggapan atas sifat-sifat muta'addiyah semata. Selain itu pujian diwujudkan melalui ucapan saja, sedangkan syukur diwujudkan dalam bentuk keyakinan hati, ucapan, dan amal anggota badan (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 8, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/29])Iman terhadap nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya (Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/33])Penetapan tauhid asma' wa shifat (Taisir al-Karim ar-Rahman, lihat al-Majmu'ah al-Kamilah [1/37])Penetapan Allah sebagai satu-satunya yang berhak untuk diibadahi (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/33,37]). Allah mendahulukan sifat uluhiyah -yang terkandung dalam kata Allah- daripada sifat rububiyah -yang terkandung dalam kata Rabb-, hal ini dimungkinkan karena 2 alasan: Pertama, karena kata Allah itu adalah nama khusus bagi-Nya yang disifati oleh Asma'ul Husna yang lain sehingga dikedepankan. Atau yang kedua, karena orang-orang yang didakwahi oleh para rasul adalah golongan orang-orang yang menolak keesaan Allah dalam hal uluhiyah-Nya, artinya mereka membagi-bagi ibadah mereka tidak hanya untuk Allah tapi juga untuk selain-Nya (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9). Karena Allah satu-satunya pemelihara seluruh alam semesta ini maka hanya Allah pula yang berhak untuk diibadahi, tidak ada yang menerima ibadah selain Allah (lihat Risalah Tsalatsat al-Ushul dalam Majmu'ah at-Tauhid, hal. 20)Penetapan tauhid rububiyah (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/37], Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 8). Rububiyah Allah mencakup semua makhluk (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9). Ayat ini -al-Hamdu lillahi Rabbil 'alamin- menunjukkan keesaan Allah dalam hal rububiyah-Nya (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 8). Rububiyah Allah itu mencakup tiga hal pokok, yaitu: mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9). Tauhid rububiyah merupakan landasan dan dalil untuk menundukkan orang-orang yang menentang tauhid uluhiyah (lihat adh-Dhau' al-Munir [1/36])Rabb adalah Dzat yang mentarbiyah hamba-hamba-Nya. Dia lah yang menciptakan mereka dan kemudian menunjuki mereka kepada kemasalahatan dirinya. Selain itu, Rabb juga bermakna yang menguasai dan mengatur serta memperbaiki keadaan (lihat adh-Dhau' al-Munir [1/24], Tafsir al-Qur'an al-'Azhim [1/31])Bantahan bagi kaum atheis yang mengingkari adanya pengatur alam semesta ini (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 9, Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 27)Allah telah menanamkan fitrah di dalam hati umat manusia untuk meyakini keberadaan Allah Yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini (lihat Tafsir Surah al-Fatihah, hal. 28)Bantahan bagi paham wahdatul wujud -kesatuan antara Allah dengan makhluk- (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 51)Penetapan tarbiyah Allah kepada makhluk-Nya, baik yang bersifat umum -mencakup seluruh makhluk- maupun yang bersifat khusus -yang diberikan hanya kepada wali-wali-Nya- (Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/34], lihat juga al-Qowa'id al-Hisan, sebagaimana dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [8/92])Penetapan nubuwwah (kenabian) dan kebutuhan umat manusia terhadapnya. Karena tidak mungkin Allah sebagai Rabbul 'alamin meninggalkan umat manusia dalam keadaan sia-sia; tidak menunjukkan kepada mereka apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan dirinya (lihat at-Tafsir al-Qoyyim, hal. 7-8)Penetapan keesaan Allah dalam hal penciptaan alam semesta, pengaturan, dan pemberian nikmat, sekaligus menunjukkan betapa besarnya kebutuhan seluruh makhluk kepada-Nya (Taisir al-Karim ar-Rahman, sebagaimana tercantum dalam al-Majmu'ah al-Kamilah [1/34])Ayat ini mengandung pilar ibadah yang sangat agung yaitu al-Mahabbah/rasa cinta. Karena Allah adalah al-Muhsin -yang melimpahkan segala kebaikan- dan Dia juga al-Mun'im -yang mencurahkan semua nikmat- maka sebagai konsekuensinya adalah hanya Allah yang layak dicintai dengan puncak kecintaan yang tertinggi dan tidak boleh ditandingi dengan kecintaan kepada apapun juga (lihat Syarh Ba'dhu Fawa'id Surah al-Fatihah, hal. 12)